LIDAH: TAJAM MESKI TAK BERTULANG

Graphic1

Di desa tempat saya tinggal merupakan sentra pembuatan batik. Jadi saya kadang kala ikut bantu-bantu dalam proses pembuatan batik milik tetangga saya. Di pabrik tempat saya bekerja memiliki beberapa karyawan. Dan untuk mengatasi rasa bosan dalam bekerja, kadang kami selingi dengan candaan dan gurauan. Namun pada saat bercanda, ada semacam aturan tidak tertulis “bahwa nggak boleh ada sakit hati, baper maupun marah” pada saat bercanda.

Meskipun nggak bisa dipungkiri kadang memang ada cletukan-cletukan yang memang menyayat hati, namun itu semua harus kami tahan. Dan kadang juga saya tau jika memang teman saya itu merasa tersinggung. Karena saya lihat perubahan dari raut wajahnya meskipun dia coba tutupi dengan tawa palsunya. Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu.

Suatu hari ada dua orang mbak-mbak wisatawan yang ingin melihat proses pembuatan batik di tempat saya bekerja. Seperti layaknya wisatawan lain, mereka lihat-lihat, foto-foto, tanya-tanya juga *macam wartawan*. Dan, momen-momen tersebut membuat kami grogi :D.

Singkat cerita, setelah melihat kami bekerja selama kurang lebih setengah jam ahirnya mereka pergi. Setengah jam tadi bagi saya seperti setengah tahun lamanya. Behkan setelah mereka pergi, kami semua masih terlihat tegang :D. hingga ahirnya temen saya mencoba mencairkan suasana dengan membuka obrolan ringan.

T1: “ kamera kae mau jenenge DLSR to cah? ” (kamera tadi namanya DLSR kan bro?)

T2: “ ora mas, jenenge DLRS ” (nggak mas, namanya DLRS)

Mereka berdua terus berdebat tentang jenis kamera yang digunakan mbak-mbak tadi karena sama-sama nggak tau. Karena jengkel, tiba-tiba saya yeletuk

S : “ salah kabeh, kae mau jenenge SDRL alias SD Ra Lulus “ (salah semua, tadi namanya SDRL alias SD nggak Lulus) celetuk saya sambil tertawa puas :D.

Tiba-tiba saya lihat raut wajah temen saya berubah *emang dasar ni mulut nggak ada remnya*. Namun tetap berusaha dia tutupi dengan senyum kecutnya. Mungkin dia tersinggung karena dia memang putus sekolah, begitu pikir saya.

Deg, jantung saya serasa berhenti. Saya merasa sangat bersalah seakan saya merupakan tokoh antagois dalam sebuah drama sinetron yang sedang membully tokoh protagonis 😦 *oke, mungkin sedikit lebay*

Tapi dari pengalaman tersebut saya jadi belajar satu hal. Beberapa dari kata-kata yang meluncur dari mulut kita bak air bah yang tak terbendung itu bisa saja menyakiti hati seseorang. Meskipun jika ucapan itu kita ucapkan tanpa sengaja.

Mungkin bagi beberapa orang candaan bernada ejekan biasa saja *saya misalnya*. Namun bagi beberapa yang lain bisa saja menyakiti hatinya *seperti temen saya tadi*. Meskipun kita nggak bermaksud menghina, namun orang lain bisa saja mengartikannya secara berbeda.

Karena sebagai seorang muslim kita harus menjaga keselamatan saudara kita (sesama muslim) seperti sabda Rasulullah SAW: “…Orang muslim yang baik adalah yang muslim lainnya aman dari ganguan ucapannya dan tangannya…” (HR. Bukhari)

Untuk itu ada baiknya kita pikirkan baik-baik kalimat yang akan kita ucapkan. Selain itu, penting bagi kita untuk memahami karakter orang yang kita ajak bicara. Sehingga kita dengan mudah menyesuaikan kalimat yang kita pakai saat berbicara dengan dia. Saya jadi ingat pepatah yang mengatakan “dengar seribu kali, pikirkan seratus kali, dan katakan satu kali”.

Di ahir post ini saya ingin mengatakan bahwa apa yang saya tulis diatas hanyalah menurut pandangan saya pribadi. Dan setiap orang mempunyai jalan pikiran masing-masing . sehingga pendapat saya mungkin sangat berbeda dengan pendapat kalian. Saya sendiri bukan mahluk sempurna, sehingga apa yang saya pikirkan tentu banyak kurangnya. Untuk itu jika tulisan diatas menyinggung kalian, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Jika kalian mempunyai pandangan sendiri tentang tulisan saya diatas, boleh dong ditulis di kolom komentar 😀 .

“ lidah layaknya belati

menembus dada menusuk hati

Jika raga bisa beregenerasi

Luka hati dibawa mati”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s