KETIKA TAK PERLU LAGI MENGANGKAT SENJATA

Graphic1Tujupuluh satu tahun sudah negri kita tercinta ini terlepas dari belenggu penjajahan. Dalam meraih kemerdekaan ini tak semudah kedengarannya memang. Tak terhitung lagi banyaknya darah dan aimata yang para pendahulu kita sumbangkan. Dengan gagah berani dan peralatan seadanya beliau-beliau melawan para penjajah.

Tak cukup sampai disitu, begitu merdeka perjuangan masih harus terus berlanjut. Karena layaknya bayi yang tertatih saat belajar berjalan, negara yang baru merdeka ini juga terus menerus menghadapi tantangan baru. Karena ada saja upaya-upaya untuk terus mengacurkan kedaulatan negri ini, baik itu dari luar ataupun dari dalam.

Sebut saja agresi militer belanda yang ingin mempertahankan negri jajahannya. Ada juga pemberontakan PKI yang masih diperdebatkan hingga saat ini. Namun ahirnya semua itu dapat ditumpas berkat saling percaya antara rakyat dan penguasa hingga membuat mereka menjadi kelompok yang solid. Dan hasilnya bisa kita nikmati saat ini.

Hingga ahirnya masa-masa itu sudah terlewat jauh sampapi saat ini. Kisah-kisah heroik para pejuang di masa lampau seolah hanya menjadi bumbu pemanis dalam pelajaran sejarah. Hanya dihafal lalu kemudian dilupakan tanpa kita pahami esensinya. Seolah-olah kisah patriotisme mereka hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur.

Kembali ke masa sekarang. Hidup di jaman serba mudah (di daerah jauh dari konflik tentunya) mungkin telah membuat anak-anak bangsa ini terlena. Tak perlu lagi memanggul senjata, membuat anak-anak ini egois yang mementingkan dirinya sendiri. Dari elit penguasa hingga rakyat jelata sama saja.

Para penguasa mengincar tahta hanya untuk kepentingan parpolnya dengan mengesampingkan kepentingan rakyat. Maka tak heran jika masyarakat telah kehilangan kepercayaan terhadap penguasa. Pemilu tak ubahnya dengan ajang membuang uang. Karena siapapun kandidatnya sama-sama tak bisa dipercaya. Jika sudah begitu yang punya banyak harta lah yang naik tahta.

Belum lagi wabah penyakit masyarakat yang menyerang penduduk negri ini (atau lebih tepatnya menyerang mental kita). Mulai dari narkoba dan miras, prostitusi, tawuran, perampokan, dan masih banyak lagi. Seolah olah negara ini menjadi panggung kriminalitas. Anak-anak bangsa ini perlahan membawa negara ini dalam kehancuran.

Jika mereka, para pejuang melihat polah anak-anak yang mereka perjuangkan ini, entah apa yang mereka pikirkan. Mungkinkah mereka kecewa, menyesal ataupun marah? Entahlah. Mungkin kitalah yang harus memikirkannya apakah kita membuat mereka kecewa, marah atau menyesal?

Kita yang digadang-gadang sebagai generasi yang membuat negri ini jaya, mahsyur, harum mewangi menyebar ke seluruh penjuru dunia ternyata kalah oleh nafsu dan sifat egois. Kita yang membiarkan orang lain mengacak-acak rumah kita, mengambil harta benda kita. Sedangkan kita sendiri hanya memikirkan kepentingan pribadi dan sibuk saling menyalahkan.

Jika sudah begini kita hanya bisa menunggu kehancuran negri ini. Maka solusinya adalah dengan memperbaiki kembali mental anak-anak bangsa ini. Membangun kembali hubungan yang baik serta kepercayaan antara penguasa dan masyarakat. Membabat habis parasit-parasit yang selama ini menghisap sumberdaya negri ini.

Namun, upaya tersebut tidak mudah tentunya. Akan ada tangan-tangan jahil yang akan menghalangi upaya tersebut. Tangan tangan yang tak lagi bisa mengeruk keuntungan jika negara ini maju. Dan itulah yang akan menjadi tantangan baru untuk kita semua.

Jadi intinya, dahulu bangsa kita telah berjuang dengan mengangkat senjata untuk menggapai kemerdekaan dan ahirnya bisa diraih dengan segala pengorbanannya. Dan sekarang setelah merdeka kita masih harus terus berjuang walaupun tanpa harus mengangkat senjata untuk mengisi kemerdekaan ini. Kita perlu menunjukkan pada dunia bahwa sesungguhnya kita ada. Kita masih  harus terus berjuang untuk membuat negri ini meraih kejayaan.

Sebagai penutup, saya jadi teringat sebuah kata mutiara dari Bung Karno “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s