RAJA TANPA TENTARA

chess-1226126_1920

image by: pixabay.com

Hawa dingin dibungkus kegelapan menusuk tulang yang membelai tiap insan hingga tetap terbuai dalam mimpinya. Suara kokokan ayam jantan yang terabaikan mulai saling bersaut-sautan.

Sayup-sayup terdengar merdu suara adzan yang mendayu-dayu *sambil sesekali terbatuk-batuk*. Namun semua itu tidak lain hanyalah sebuah lagu nina bobok bagi anak-anak manusia ini. Kalaupun sempat membuka mata mereka, hanya ingat untuk membetulkan posisi selimutnya. Sungguh suasana subuh yang khas…

Namun itu semua tidak berlaku buat mbah sugeng. Usia yang sudah uzur tak lantas membuat api semangatnya yang menyala-nyala menjadi padam. Udara dingin tak mampu menikam tekadnya. Kegelapan pun tak dapat menutup cahaya iman yang terus berpijar dari dalam hatinya.

Terbukti suara langkahnya membelah kesunyian, menggema masuk menyusuri lorong-lorong serta gang-gang kampung tersebut. langkahnya teguh, tekadnya sekuat baja, sekeras permata. Perlahan namun pasti, langkahnya membawa ia pada sebuah bangunan yang berdiri megah nan gagah bak istana *setidaknya beberapa puluh tahun yang lalu*. Ya itu memang istana Tuhan atau biasa kita sebut masjid.

Sejenak dia berdiri di teras masjid dan memandang pintu tua yang berbahan jati dengan ukiran ukiran indah serta lubang-lubang kecil pertanda bahwa ia telah termakan usia *lapuk*. Tanpa ragu lagi ia kemudian masuk ke dalam rumah Allah tersebut. Dan ternyata di dalam ia dapati sosok yang telah lama ia kenal.

Ia melihat mbah sastro telah menunggu di dalam rumah Allah tersebut. Mbah Sastro, sosok yang tak kalah semangat dengan mbah sugeng ini merupakan kawan sepermainan mbah sugeng. Ia juga lah yang merupakan insan di balik suara merdu adzan subuh ini.

Mungkin diantara kawan-kawan seumuran mereka hanya mereka berdua yang masih sehat. Sementara yang lain sudah banyak yang dipanggil Sang Kuasa. Ada juga yang sudah jompo bahkan untuk berdiripun susah. Tentu saja mereka bisa kita maklumi jika tidak sanggup ke masjid. Tetapi menjadi suatu pertanyaan besar ketika kita yang masih muda segar dan bugar tak sanggup buat sekedar melangkahkan kaki ke masjid untuk menghadap Ilahi.

Begitu masuk, mbah sugeng telah disambut dengan senyuman hangat mbah sastro. Hawa dinginpun tak lagi ia rasakan. Segera ia berdiri menghadap kiblat dan mengerjakan shalat sunnah dua rekaat. Dengan khusyu’ dan tuma’ninah mbah sugeng mengawali dari takbiratul ihram hingga ahirnya salam, pertanda bahwa ritual suci itu selesai sempurna.

Namun setelah salam tak ia dapati seorangpun yang datang ke masjid ini lagi. Setelah merasa lama dalam penantian (baru lima menit), tak tampak seorangpun lagi yang datang. Mbah sastro berdiri dan memutuskan untuk mengahiri penantian tersebut dengan iqamah. Mbah sugeng pun tak mau ketinggalan. Ia ikut berdiri dan memimpin mbah sastro untuk bersujud menghadap sang khalik.

Dengan tekad dan kegigihan, mereka mewakili penduduk kampung tersebut memakmurkan masjid. Mungkin dimasa mendatang, akan ada generasi baru yang lahir dan memakmurkan masjid di kampung tersebut menggantikan mereka berdua. Atau bisa jadi malah mereka berdualah generasi terahir yang mempertahankan masjid tersebut. Dan sepeninggal mereka berdua rumah Allah tersebut perlahan runtuh seiring runtuhnya ahlak dan moral masyarakat kampung tersebut. Entahlah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s